Seuntai Bisikan
Jika ada yang bertanya, berapa lama lagi bulan Ramadhan tiba ? adakah dari kita yang tahu ? adakah diantara kita bisa menjawabnya ? Terlintas di hati dan benak kita, itu masih lama. Tidak pas jika berbicara tentang Ramadhan saat ini.
Sahabatku..
Mari mempersiapkan diri dari saat ini. Meninggalkan kebiasaan buruk, meningkatkan keimanan, dan mendekatkan diri kepada Allah. Sungguh semua manusia itu sama. Semua muslim itu bersaudara. Seperti dalam khutbah terakhir Rasulullah SAW
“Ketahuilah bahwa setiap muslim adalah saudara dengan muslim yang lainnya. Kamu semua adalah sama; tidak seorang pun yang lebih mulia dari yang lainnya kecuali dalam Taqwa dan beramal Shalih”
Benar kemuliaan itu hanya milik Allah swt. Namun bukan berarti manusia itu tidak bisa jadi mulia dihadapan Tuhannya. “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu.” (Q. S. Al-Hujurat : 13).
Mari lihat kembali diri masing-masing. Sejauh mana ketaatan dan kedekatan kita kepada Allah swt. Shalat wajib yang kita kerjakan, Perilaku yang sering salah dalam bersikap, Puasa sunnah yang kadang malas. Shalat sunnah yang enggan kita lakukan, ucapan do’a yang lebih sedikit dari pada ghibah yang tidak disadari keluar dari mulut, dan berbagai prasangka yang tidak pernah berujung yang akhirnya hanya membuat hati menjadi gelisah.
Apakah Subuh kita terlambat lagi ?? atau lupa kapan terkahir sholat subuh berjamaah ? Itulah pertanyaan yang harus kita jawab. Subuh ternyata, hanya milik orang – orang kuat. Yang mampu melawan diri mereka sendiri sebelum menundukkan segala permasalahan hidup.
Jika Sholat subuh yang wajib saja masih berat, bagaimana dengan ibadah sunnah lainnya ?
Saudaraku..
Tahukah engkau kisah pemuda penakluk Konstantinopel ? kota tersebut dibawah Imperium terbesar yang ada saat itu. Usianya saat itu masih sangat muda. Pada usia 21 tahun mampu menguasai 6 bahasa. Namun di usianya yang sangat belia itu mampu memimpin beribu-ribu pasukan. Berani berhadapan dengan Imperium Terkuat. Bahkan Rasulullah pun pernah bersabda “Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan.” [H.R. Ahmad bin Hanbal Al-Musnad 4/335].
Ya pemimpinnya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukannya adalah sebaik-baik pasukan. Siapakah dia ? Apa rahasianya ? Diceritakan bahwa tentara Sultan Muhammad Al Fatih tidak pernah meninggalkan solat wajib sejak baligh & separuh dari mereka tidak pernah meninggalkan solat tahajjud sejak baligh. Hanya Sulthan Muhammad Al Fatih saja yang tidak pernah meninggalkan solat wajib, tahajud & rawatib sejak baligh hingga saat kematiannya.
Begitu juga dengan Salahudin Al Ayubi dan Tariq bin Ziyad. Mereka hanya memilih pasukan terbaik yang dipilih untuk menghadapi musuh. Tahajud menjadi syarat utamanya. Namun bukan berarti kita tidak bisa. Itu artinya Sultan Muhammad Al Fatih hingga berusia 21 tahun, melewati sekitar 10 tahun sejak baligh dengan tidak meninggalkan shalat wajib dan tahajudnya.
Saudaraku..
Mari jadikan momentum-momentum terbaik di hari-hari kita untuk meningkatkan ketaatan dan kedekatan kita kepada Allah swt. Jadikan hari-hari ketika bahagia, ketika kita sedih, menjadi momentum untuk menjadikan diri kita lebih baik.
Jauhi perkara haram. Seperti kata Rabiah Al Adawiyah kepada ayahnya
“Ayah, yang haram selamanya tak akan menjadi halal. Apalagi karena ayah merasa berkewajiban memberi nafkah kepada kami.”
Ya Sebab selamanya yang haram itu tidak akan menjadi halal. Jauhi pandangan yang haram. Jaga penglihatan dan hati. Sebab hanya kita dan Allah yang tahu, mata ini telah digunakan untuk melihat apa saja, hati ini digunakan untuk apa saja, dan pendengaran ini digunakan untuk mendengar apa saja.
Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya” (QS. Al-Israa’:36)
Jauhi sumber rezeki yang haram. Sebab ketika itu masuk ke dalam tubuh kita, maka selamanya yang haram itu akan tetap bersemayam di tubuh. Keturunan-keturunan kita nantilah yang bisa jadi merasakan dampak rezeki yang tidak halal itu. Coba ingat-ingat lagi tentang kisah orang tua Imam Syafi’i.
Jauhi juga perbuatan-perbuatan yang mengarah ke itu semua. Contoh kecilnya saja ketidak jujuran dalam ujian semester. Nilai ujian itu akan menorehkan nilai IPK nantinya. Nilai IPK itu bisa di gunakan untuk mencari rezeki. Rezeki itu akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Mau memberi makan anak dan istri dari hasil ketidak jujuran kita di awal ?
Seprti kisah ini :
Abu Yazid Al Busthomi sejak kecil taat kepada Allah dan suka berbuat kebajikan. Kedua orang tuanya selalu menjaga diri untuk tidak makan kecuali yang halal. Abu Yazid, sejak dalam kandungan sampai disapih dari air susu ibunya, tidak pernah berkenalan dengan barang Syubhat, apa lagi haram. Pada tahap awal Iradah ( Keinginan )nya, jika mendengar suatu kebaikan, beliau mudah lupa.
” Apakah ibu ingat pernah memakan sesuatu yang haram atau Syuhbat ketika mengandung atau menyusuiku, sebab jika mendengar kebaikan aku mudah lupa ? ” tanya Yazid Al Busthomi kepada ibunya.
” Anakku, suatu hari ketika sedang mengandung atau menyusuimu, aku melihat sepotong keju tergeletak di tempat fulan. Saat itu aku sedang mengidam, dan benar – benar menginginkan keju itu. Lalu ku ambil secuil keju dan kumakan tanpa sepengetahuan pemiliknya. “
Mendengar jawaban ibunya, Abu Yazid segera mengunjungi pemilik keju itu.
” Wahai fulan, dahulu ketika mengandung atau menyusuiku, ibuku telah memakan secuil kejumu. Sekarang aku mohon agar engkau sudi memaafkannya, atau engkau tetapkan berapa harga secuil keju itu, nanti aku akan membayarnya, ” kata Abu Yazid setelah bertemu pemilik keju.
” Ibumu telah kumaafkan dan apa yang ia makan telah kuhalalkan, ” kata pemilik keju.
Sejak saat itu, Abu Yazid tak pernah lupa, bila mendengar kebaikan. Anggota tubuhnya semakin ringan untuk berbuat kebajikan.
Wahai pelaku kebaikan perbanyaklah kebaikan.. Wahai pelaku keburukan cukuplah melakukan keburukan..
Ingatlah Saudaraku..
Allah hanya memanggil hamba-hambanya yang berjiwa tenang untuk masuk ke surga.
“Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhamu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku. Dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (Al-Fajr : 27-30)
Referensi :
http://abuhannan-ilham.blogspot.com/2009/12/kisah-tahajud-yazid-al-busthomi.html
http://darisrajih.wordpress.com/category/kisah-sufi/rabi%E2%80%99ah-al-adawiyah/
http://www.facebook.com/note.php?note_id=185263721519722 (Sultan Muhammad Al Fatih)





Belum ada trackback.