Dek Yan
Minggu pagi yang cerah saya menyempatkan diri ke kampus karena ada janji. Saya menunggu teman yang sedang syuro. Saat itu saya duduk di tangga serambi selatan Masjid Syamsul ‘Ulum Institut Teknologi Telkom. Angin pagi yang dingin merasuk ke relung tubuh ini. Terlihat pohon-pohon menari dengan gembira. Suara sentuhan antara dedaunan menyerbu gendang teinga ku dengan nada alunan music pop. Kulihat beberapa meter dari tempat saya duduk, ada seorang anak kecil laki-laki yang sedang bermain sendiri. Menggunakan kaos pemain bola. Rambutnya yang keriting kusam terlihat kalau dia belum mandi pagi.
Saat saya duduk, saya sapa dia.
“sini.. dek sini.. duduk di sini. Di sebelah om..”
Tanpa ragu dia pun langsung mendatangi di sebelah ku. Tidak ada raut heran dalam wajahnya. Menerima orang yang di kenal begitu saja. Tidak ada tanda tanya dalam benaknya.
“Namanya siapa ? “ tanya saya
“dek yan” jawabnya
“tinggal dimana ? kesini sama siapa ?”
“di mengger. Sama kakak.” Sambil menunjuk kea rah kakaknya yang sedang duduk di dekat wudhu wanita. Mereka dari mengger ke masjid ini hanya menggunakan kaki sebagai alat transportasinya. Sesekali terlihat ada orang yang mau masuk ke masjid. Dengan sigap dia merapikan kembali jejeran sandal itu.
“Dek yan kesini ngapain ?”
“Rapiin sandal..” jawabnya
Mata ku pun tertuju kea rah sandal yang berjejer di depan mataku. Ah.. rapi sekali. Terlihat tidak biasanya. Setahu saya disitu tidak pernah ada kata rapi. Biasanya sandal-sendal berserakan tidak menentu. Sandal yang disusunnya membuat pemilik sandal gampang memakainya ketika keluar dari masjid. Ah indah sekali. Kemudian aku bertanya lagi.
“Untuk apa dirapiin ?” ini bener-bener pertanyaan bodoh. Hehe
“yaa supaya gak berserakan.” Jawabnya
Polos sekali jawabnya. Dek yan ini berusia 5 tahun. Belum sekolah. Jika saya lihat keikhlasan yang ada di hatinya sangat menggugah diri ini. Hanya menyusun sandal, mampu membuat mata ini takjub. Mampu mengubah pemandangan jadi indah. Mampu memudahkan orang memakai sandalnya. Setahu saya di situ mereka hanya bermain saja. Bermain kesana kemari. Bukan untuk mencari uang.
Lalu bagaimana dengan saya dan anda ? Nggak peduli mo rapi atau nggak. Bukan urusan kita ya nggak ? hehe. Peduli amat kayak gak ada kerjaan lain aja. Fyuuhh kalau begini sudahlah. Malu saya sama dek yan itu.
ini gambarnya saya ambil langsung






Belum ada trackback.