Ma… Mengapa aku dibuang ??
Tak terasa adzan maghrib pun telah berkumandang di hamparan langit merah itu. Mesin-mesin pencari nafkah mengalir deras di jalanan seperti memenuhi aliran mutiara air yang sempit. Saya lihat jarum jam yang ada di layar hand phone saya. Saatnya buka puasa. Namun acara ini, tadarus buku di perpustakaan Gedung Merdeka Bandung, sebentar lagi selesai. Saya raih segelas air mineral dan mengambil Hape yang ada di kantong. Tak berapa lama kemudian saya membuka aplikasi Opera Mini dan menyerbu Halaman Home Facebook. Terlihat ada status yang menarik di saat itu.
Astagafirullah..ditemukan bayi baru berumur sehari dibungkus plastik kresek hitam beserta ari2nya, di TPA, diantara gundukan sampah di sebuah kota di Indonesia.. (gundukan sampah ya Allah)
Itu status dari NY Sham. Saya pun gak pernah nyangka ada kejadian seperti ini. Walaupun dulu sering terdengar berita ini, tapi mengapa sampai saat ini masih juga ada. Tidak kah peristiwa yang lalu dijadikan pelajaran ? Setahu saya seorang ibu yang membuang bayi itu nggak sampai hati membuang bayi ke tempat sampah. Setidaknya membuangnya ke depan rumah orang agar ada yang merawat bayi itu. Tahukan teman sekalipun kita miskin, kita tidak boleh membunuh anak kita karena takut tidak bisa menghidupinya. Tahukah kawan, hal ini sudah Allah ingatkan dalam Al-qur’an :
“Dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan. Kamilah yang akan memberi rizki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar,” (Al-Israa’: 31).
Padahal Allah sudah berjanji akan mencukupkan Rizki kita, tapi mengapa masih ada yang tega membunuh anaknya sendiri ? Mungkin mereka bisa menjawab. Saya tidak tahu tentang hal itu. Tentang Ayat itu atau apalah. Yang intinya tidak tahu sama sekali
“Sesungguhnya rugilah orang-orang yang membunuh anak-anak mereka karena kebodohan lagi tidak mengetahui, dan mereka mengharamkan apa yang telah Allah rizkikan kepada mereka dengan semata-mata mengada-adakan terhadap Allah. Sesungguhnya mereka telah sesat dan tidaklah mereka mendapat petunjuk,” (Al-An’aa: 140).
Ah… saya tidak tahu harus berbicara apa lagi. Mungkin dari pembaca ada yang mengatkan itu adalah anak hasil dari zina. Jika demikian dosanya pun berlipat. Habis berzina, membunuh. Dan orang-orang seperti ini tidak akan mendapat petunjuk dari Allah.
Kalaupun iya, cukuplah sampai disitu. Taubat itu lebih baik. Jangan dibunuh anak itu. Anak itu tidak ada salah. Alasan apa lagi ? Malu ? ya wajarlah. Tapi ingat, apa yang kita lakukan, itulah yang akan dipertanggung jawabkan. Kita yang akan bertanggung jawab bukan orang lain.
“Jika engkau melihat orang melakukan dosa, tidak perlu mencacinya. Tapi ingatlah dosa2mu karena Allah hanya menanyakan amal yang engkau lakukan,” bgtu salah satu nsihat luqman kepada anaknya
Bisa saja ketika anak itu dirawat dengan baik-baik, akan menyelamatkannya di dunia dan akhirat.
Hewan saja gak ada yang sampai mau membuang anaknya. Padahal si betina itu udah sering dikawinin sama si jantan yang beda-beda. Bahkan ada yang mau merawat anak binatang dengan spesies berbeda.
Sudah sepantasnyalah orang-orang seperti tidak akan mendapat petunjuk Allah dan akan menjadi orang yang sesat.





yah begitulah sudah krisis ekonomi, krisis lagi moral, ditambah lagi pembunuhan terhadap anak bayi tingkat nya semakin lama semakin tinggi, drastis, dan miris melihatnya…
padahal klw berhubungan zinah anak tidak salah tapi yg salah, adalah kelakuan kedua orgtuanya… malu kepada tetangga kanan kiri tapi tidak malu kepada allah…
@muhasabahcinta
jadi apa nih yang harus kita lakukan ?