Celoteh Ba’da Maghrib

Suara kebenaran telah memanggil. Sautan adzan saling tarik menarik antar desa. Waktu maghrib pun tiba. Orang-orang pada masuk ke rumah. Hembusan angin kecil menggelayut di sela-sela gang depan rumah. Malam sudah mulai menampakkan wajahnya. Lentikan sinar bintang mulai melirik ke wajah penuh cahaya. Layang-layang bergoyang di antara tiang listrik yang kokoh seperti biduan wanita yang kehilangan mikroponnya. Sesegera aku mengambil wudhu untuk berangkat ke masjid bersama teman-teman satu rumah. Jarak dari rumah ke masjid tidak terlalu jauh. Namun jarak yang pendek itu telah menyimpan cerita mendalam yang telah disaksikan oleh malaikat.

Aku berjalan menelusuri blok perumahan. Pulang dari masjid ke rumah. Berjalan sendiri sembari menyaksikan harmony ba’da maghrib di GBA3. Sesekali tukang sate lewat dengan membawa dagangannya. Teriakannya sangat merdu ketika harmoni ini begitu sendu dan sepi. Ketika sampai di depan rumah, aku berdiri dan berhenti sejenak.

Melihat ke langit yang begitu elok. Perpaduan biru dan hitam dihiasi Kristal-kristal cemerlang memperindah angkasa.

Sudah hampir setahun aku tinggal di rumah ini bersama enam orang teman. Tidak seperti biasanya ba’da maghrib kali ini begitu sepi. Tidak ada suara kecerian yang menemani ketika pulang dari masjid seperti dulu.

Beberapa bulan yang lalu, kami satu rumah biasanya pulang bersama-sama dari masjid ketika selesai sholat berjama’ah lima waktu. Berbagai tawa, cerita, kisah, ide dan canda sudah pernah terlintas di benak kami. Mulai dari masalah rumah, kuliah hingga masa depan. Canda dan tawa yang kami rindukan. Kami layaknya parade sirkus yang sedang beraksi di tengah jalan dalam harmoni ba’da maghrib. Hanya suara kami yang terdengar. Jika saja aku menjadi penghuni rumah saat itu yang jalanan di depan rumahnya dilewati para pemain sirkus ini, mungkin aku sudah menyewa mereka untuk beratraksi di panggung. Berbagai cerita telah disaksikan malaikat.

Lucunya ketika bercerita tentang masa depan. Sepanjang jalan dari masjid sampai rumah, pasti terdengar suara Prikitieuw yang kami kumandangkan. Tak peduli apa kata orang dengan apa yang kami lakukan. Mungkin ini kebahagiaan harmoni ba’da maghrib. Kami berjalan bersama dari masjid menuju rumah. Sampai-sampai salah satu dari kami bernasyid ria. Sebenarnya bukan bernasyid ria, tapi berqasidah ria. Sambil bersenandung “ Duhai senangnya pengantin baru..”, kami ber 5 manyambung nada. Terereeeet tereeerertttt… “Duduk bersanding bersenda gurau.. “ tererereeet tereerereeett. Yihhaaaa…. Mantap bro.. nyanyi sambil ketawa-ketiwwi cekikikan tak bermutu. Itu salah satu lirik Qasidah. Disela-sela itu ada yang menyeletuk ciee..cie… Prikitieuw. Hehehe.. aneh tapi itulah yang pernah terjadi. Kabahagiaan ba’da maghrib yang sekarang hampir tidak pernah dirasakan. Sebab setiap dari kita mempunyai kesibukan masing-masing.

Kalau sudah menyinggung tentang nikah, segala masalah kuliah yang membuat cemberut musnah seketika, proposal Tugas Akhir yang membuat kepala bercucuran lupa seketika. Seolah-olah tidak ada masalah di dunia ini. Layaknya burung onta yang terbang kesana-kemari. (emang burung onta bisa terbang gitu..?? :D ) ah tak terasa sudah sampai rumah. Sambil masuk rumah suara kami bersahut-sahutan. “Assalamu’alaikum”.. dengan berbagai nada. Ada yang khas sunda ada yang khas betawi. Setelah masuk ke rumah, masing-masing dari kami ke kamar masing-masing. Bersiap-siap melantukan untaian ayat suci dengan merdu. Tak terasa waktu begitu mengalir indahnya. Pergantian malam pun menyaksikan kami.

Itulah suasana yang dirindukan. Bak mentari merindukan cahayanya. Namun itu Cuma kenangan masa lalu yang indah. Saat ini salah seorang dari kami ada yang sakit, pergi, kerja dan sebagainya. Yah aku hanya menerawang menyaksikan langit sambil mengenang masa-masa indah itu. Masih banyak cerita dan celoteh ketika kami pulang sholat berjama’ah. Apalagi ketka sholat subuh, pernah ada keluarga kecil bersama ayah, ibu dan anaknya pulang dari sholat subuh dengan penuh kebahagiaan. Senyum-senyum mereka yang jadi impian kami. Sungguh indah waktu selesai sholat. Tautan antar harmoni dan hati menyatu tanpa batas.

  1. Belum ada trackback.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.